Kisah si Guci Retak v.1

Jauh di sana, di sebuah desa tepencil yang di kenal dengan nama Desa Kebijaksanaan , hiduplah seorang kakek tua. Mata pencaharian kakek adalah berkebun... menanam sayur2 an untuk dia jual ke pasar, guna memenuhi kebutuhan pangannya sehari - hari.. Dengan segala keuletannya, setiap hari ia bangun sebelum matahari mengintip di pegunungan si geulis..

Berbagai jenis tanaman pangan, ia pelihara di kebun rumahnya. Mengolah lahan, menyemai bibit2 baru, dan menyirami nya setiap hari. semua itu dia lakukan dengan tekun dan penuh suka cita.. Untuk kebutuhan menyiram kebunnya, ia terbiasa menngambil air menggunakan pikulan yang di kaitkan pada 2 buah guci. sumber mata air terdekat, biasa kakek tempuh dengan jarak 500 meter dari rumahnya... lumayan jauh, namun dengan setia ia melakukan pekerjaan ini setiap hari ditemani anak anjing kesayangannya.

termakan oleh usia, salah satu dari guci- guci tersebut retak. dari retakan halus ini, air menetes keluar. sehingga setiap kali mengambil air, setengah dari air yang di tampung oleh si guci retak habis terbuang di perjalanan.. Mengalir tetes demi tetes, membasahi jalan setapak yang biasa dilintasi kakek. Setiap hari ketika hari mulai gelap, guci2 dan pikulannya di letakan di belakang rumah. suatu ketika, si guci yang retak menangis.. tersedu2, sehingga anjing kecil mendengar tangisannya.

anjing kecil : "ada apa sahabatku, mengapa engkau bersedih? ,apa yang kiranya tengah mengganggu mu?"

guci retak : "aku sedih kawan, kecewa dengan keadaan ku saat ini... ". "setiap hari aku diperolok temanku, si guci cantik."

guci retak : "guci cantik selalu menyebutku guci retak tiada guna". "aku hanya membuat kakek lelah, karena air yang ku tampung selalu berkurang setengahnya, menetes terbuang di sepanjang perjalanan."

anjing kecil : "sudahlah kawan.. jangan kau hiraukan ejekan itu..""Bagaimanapun juga, kakek tidak merasa berkeberatan, dan terus memikulmu setiap hari untuk menyiram kebunnya.."

Berulang kali anjing kecil mencoba untuk menghibur sahabatnya, namun terus mengalami kegagalan... hari demi hari berjalan, guci cantik masih saja mencibir guci retak, tentang keadaannya. merasa iba dengan situasi yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu, anjing kecil memutuskan untuk berbicara kepada kakek tentang masalah ini.

seusai pekerjaannya merawat kebun, seperti biasa.. kakek menyimpan guci2nya di belakang rumah. tapi sore itu kakek pergi mendapati si guci retak, dan meletakannya dalam pangkuan lalu berkata : "guci retak, janganlah engkau bersedih dengan keadaanmu. pernahkah engkau berpikir, mengapa aku dengan senang hati tetap memikulmu setiap hari dan tidak menggantimu dengan guci yang baru?""itu karena tetesan airmu telah memberi hidup bagi bunga2 di sepanjang perjalanan kita mengambil air.""perhatikanlah disepanjang perjalananmu.. banyak bunga bermekaran cantik di sisi aku memikulmu. sedangkan pada sisi si guci cantik, tidak satupun bunga tumbuh di sana."

mendengar itu semua, si guci retak tersenyum... tidak lagi menangis dan tidak lagi berkecil hati dengan keadaannya. Bahkan dia merasa amat bangga dengan apa yang ada pada dirinya, dengan apa yang dimilikinya.. tanpa disadari, Ia bisa berguna bagi bunga2 di sepanjang jalan setapak itu..

Begitu juga kita manusia. kita semua adalah si guci retak, masing2 dari kita memiliki kelemahan, memiliki kekurangan. tidak ada satupun dari manusia yang sempurna. Dan hanya Tuhan yang memiliki kebijaksanaan, yang tahu bagaimana menempatkan kita agar bisa berguna bagi orang lain...

0 comments:

Posting Komentar